"Kota Medan Semakin Mengerikan, Begal-begal Sadis Berkeliaran..."

Kompas.com - 03/09/2019, 07:30 WIB
Begal sadis dan tega berkeliaran di Kota Medan, ancaman tembak mati tak meredam aksi kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat ini KOMPAS.COM/MEI LEANDHA ROSYANTIBegal sadis dan tega berkeliaran di Kota Medan, ancaman tembak mati tak meredam aksi kejahatan jalanan yang meresahkan masyarakat ini

"Gerombolan-gerombolan anonim, tidak ada orang yang bertanggungjawab sehingga mereka sangat berani," ucap Muba Simanihuruk.

Apakah ketimpangan ekonomi yang menjadi faktor pencetus, sosiolog USU ini bilang, semua orang merasakan ketimpangan ini. Namun tidak harus menyalurkannya dengan begal sepeda motor.

Kenapa tidak merampok ramai-ramai tanpa membawa sepeda motor? Walau sepeda motor menjadi alat atau cara untuk melarikan diri dan menghilangkan jejak. Kenapa bukan mobil?

"Walaupun akarnya ada di kesenjangan, makanya saya bilang multi dimensi. Atau ini bagian dari perlawanan kaum tertindas kepada kaum kapitalis yang menikmati ekstak kekayaan kota. Atau bisa jadi, mereka remaja labil yang diajak untuk menunjukkan jati diri dengan cara salah," katanya menjelaskan.

Solusi paling mudah tapi berbiaya adalah memasang kamera pengintai di zona-zona rawan begal. Ditambah razia yang bukan sekedar rutinitas, tapi bagian dari pencegahan dan penindakan.

Dia mencontohkan, ketika akan berangkat ke kampus dan mengetahui polisi sedang menggelar razia, dirinya pasti segera menyiapkan perlengkapan dan surat-surat penting. 

"Kadang kita terasing dan merasa sendiri sehingga sulit kita mendapatkan keamanan dan kenyamanan itu," katanya.

Baca juga: Begal Sadis di Makassar Banyak Libatkan Anak di Bawah Umur

Hukum rimba

Namun perasaan ini bukan berarti melegalkan masyarakat main hakim sendiri untuk menghukum para pelaku kejahatan.

Muba tidak membenarkan hukum rimba ini berlaku dan terjadi. Meski hatinya terbelah dan terusik, satu sisi melihat korban mengalami penderitaan dan kesedihan yang panjang. Sisi lain melihat pelaku diarak ke sana-sini kemudian dimassa sampai mati.

"Pengeroyokan massal adalah hukum balas dendam yang dilegalkan kelompok masyarakat, ini gak benar... Itu bukan jalan keluar, ketemu begal dihabisin, ketemu korban dihabisin juga, kita malah membuat spiral kekerasan yang tidak ada ujungnya," sebut dia.

Sebelum mengakhiri komentarnya, Muba mengajak masyarakat menghindari jalur-jalur rawan begal apalagi di larut malam.

Kalau memang sangat mendesak, tidak sendirian. Menurutnya, beginilah kehidupan masyarakat berisiko (risk society) jaman now. Persoalannya bukan hanya soal begal, mulai pemadaman listrik, lampu lalu lintas mati, tidak ada polisi, semuanya berisiko.

"Semuanya berisiko, kehidupan kota itu memang seperti inilah..." tutup Muba.  

Baca juga: Alasan Hakim Hukum Berat Dua Begal Sadis Pemotong Tangan di Makassar

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sungai Meluap, Ratusan Rumah di Banyumas Terendam Banjir

Sungai Meluap, Ratusan Rumah di Banyumas Terendam Banjir

Regional
Saling Bertemu Saat Persiapan Ibadah Online, 9 Jemaat dan Pendeta Positif Covid-19

Saling Bertemu Saat Persiapan Ibadah Online, 9 Jemaat dan Pendeta Positif Covid-19

Regional
Bupati Cianjur Ingatkan Warga Tidak Euforia Saat New Normal

Bupati Cianjur Ingatkan Warga Tidak Euforia Saat New Normal

Regional
Cerita Perawat Jaga Pasien Covid-19, Kacamata Berembun hingga Masker Basah Keringat

Cerita Perawat Jaga Pasien Covid-19, Kacamata Berembun hingga Masker Basah Keringat

Regional
Muncul Klaster Baru di Batam, Pendeta dan Jemaat Positif Corona

Muncul Klaster Baru di Batam, Pendeta dan Jemaat Positif Corona

Regional
Bayi Positif Covid-19 Harus Ditunggui Keluarga yang Negatif, Ini Penjelasannya

Bayi Positif Covid-19 Harus Ditunggui Keluarga yang Negatif, Ini Penjelasannya

Regional
Di Sumedang, Kematian Akibat DBD Lebih Tinggi dari Covid-19

Di Sumedang, Kematian Akibat DBD Lebih Tinggi dari Covid-19

Regional
Larang Pemudik Balik ke Jabodabek, Bupati Wonogiri Tak Akan Keluarkan SKIM

Larang Pemudik Balik ke Jabodabek, Bupati Wonogiri Tak Akan Keluarkan SKIM

Regional
Gubernur Banten: PSBB Tahap Ketiga Ini Awal Sebelum Pemberlakuan New Nomal

Gubernur Banten: PSBB Tahap Ketiga Ini Awal Sebelum Pemberlakuan New Nomal

Regional
Penyekatan Arus Balik Kendaraan di Jateng Diperpanjang Selama Sepekan

Penyekatan Arus Balik Kendaraan di Jateng Diperpanjang Selama Sepekan

Regional
Menyamar Jadi Pembeli, Polisi Bongkar Pabrik Miras Merek Impor Palsu, Ini Kronologinya

Menyamar Jadi Pembeli, Polisi Bongkar Pabrik Miras Merek Impor Palsu, Ini Kronologinya

Regional
Pasien Covid-19 di NTB Bertambah 42 Orang, Total Ada 636 Kasus

Pasien Covid-19 di NTB Bertambah 42 Orang, Total Ada 636 Kasus

Regional
Pasien Positif Corona di Grobogan Bertambah 2 Orang

Pasien Positif Corona di Grobogan Bertambah 2 Orang

Regional
Pensiunan TNI Dapat Gelar Petani Berprestasi dari Menteri, Ini Ceritanya...

Pensiunan TNI Dapat Gelar Petani Berprestasi dari Menteri, Ini Ceritanya...

Regional
Melihat Kesiapan Tarakan, Salah Satu Kota yang Jadi Lokasi Uji Coba New Normal

Melihat Kesiapan Tarakan, Salah Satu Kota yang Jadi Lokasi Uji Coba New Normal

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X