[POPULER NUSANTARA] Gara-gara Pilkades, Warga Boikot Hajatan | Kasus Motivator Tempeleng 10 Siswa

Kompas.com - 19/10/2019, 06:54 WIB
Suhartini dan anak pertamanya, Siti di rumahnya RT 013 Desa Jetak, Kelurahan Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (17/10/2019). KOMPAS.com/LABIB ZAMANISuhartini dan anak pertamanya, Siti di rumahnya RT 013 Desa Jetak, Kelurahan Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, Kamis (17/10/2019).

KOMPAS.com - Berita tentang Suhartini, warga RT 013 Desa Jetak, Kelurahan Hadiluwih, Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah, menjadi sorotan pembaca di Kompas.com di hari kemarin.

Pasalnya, gara-gara berbeda pilihan saat Pilkades pada bulan September lalu, warga diduga dengan segaja memboikot hajatan pernikahan anak Suhartini.

Suhartini pun kaget mengetahui para tetangganya tidak datang ke acara hajatan anaknya tersebut.

Sementara itu, kasus pemukulan sejumlah siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Muhammadiyah 2 Kota Malang, oleh AS, seorang motivator, juga menyita perhatian pembaca.

Kapolres Malang Kota juga menjadi a AKBP Dony Alexander mengatakan, hingga saat ini sudah ada 10 siswa yang diduga mengalamu pemukulan oleh pelaku.

Baca berita populer nusantara secara lengkap berikut ini:

1. Boikot hajatan gara-gara beda pilihan saat Pilkades

Ketua RT setempat, Rusmanto yang ikut menyaksikan penggeledahan rumah suami istri terduga teroris Desa Jati, Kecamatan Masar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019).KOMPAS.com/LABIB ZAMANI Ketua RT setempat, Rusmanto yang ikut menyaksikan penggeledahan rumah suami istri terduga teroris Desa Jati, Kecamatan Masar, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Rabu (16/10/2019).

Suhartini kaget saat tahu tak ada warga desanya yang datang membantu saat acara persiapan pernikahan anaknya.

Usut punya usut, hal itu dikarenakan beda pilihan dalam pilkades beberapa waktu lalu.

Tini, sapaan akrabnya, menceritakan, sepekan sebelum acara hajatan dimulai, dirinya mendatangi ketua RT setempat untuk minta bantuan pembagian kerja.
Namun, ketua RT tersebut mengatakan pembagian kerja bukan dirinya lagi yang mengatur.

Justru, ketua RT menyarankan Tini untuk menemui Karang Taruna. Setelah menemui pihak Karang Taruna, lagi-lagi Tini tidak mendapatkan hasil yang diharapkan. Merasa dipermainkan Tini memilih pulang.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X